Pohon Mangga VS Pohon Pisang

Setiap harinya Pohon Pisang dan Pohon Mangga selalu bertengkar. Pohon Pisang yang keras kepala dan Pohon Mangga yang angkuh. Pertengkaran mereka diawali karena Pak Teguh sang pemilik kebun menanam mereka berdampingan.

“Hai pisang, lu terus aja ngikutin, dimana gue ditanam pasti ada elu.”

“Enak aja, itu karena Pak Teguh milih gue sebagai buah favoritnya”

“Memangnya apa fungsi lu? Ah lu kan hanya seonggok batang yang gampang roboh kalau diterpa angin”

“Dasar lu, nggak pernah sekolah ya? Gue ini penuh dengan vitamin A, Vitamin B dan Vitamin C. Apalagi Bu Teguh sering nungguin gue untuk matang. Gue pernah denger dia ngerumpi sama tetangganya, kalau gue bisa untuk kecantikan. Ngerti lu sekarang Ngga?!” Oceh Pisang panjang lebar

“Cuma itu aja? Yah mending gue lah, duh nggak cuman lu keles yang mengandung Vitamin A dan C, jelas – jelas Vitamin C gue lebih banyak. denger ya, gue ini buah eksklusif nggak di semua musim ada. Gue ada musim sendiri. Pak Teguh selalu ngerawat gue, gue dikasih pupuk, disiram, lu tau nggak kenapa?” Oceh Si Pohon Mangga

“Ya karena elu itu suka ngrepotin Pak Teguh, gue dong mandiri. Gue bisa tumbuh tanpa dikasih pupuk cukup disiram aja” Timpal Si Pohon Pisang

“Yee, bukan itu. Gue ini pohon berkualitas, buah mahal.  Eh Pisang lu jangan mentang-mentang, inget hidup lu tuh nggak lama” Seloroh Mangga

Pisang yang mendengar pernyataan Mangga langsung naik pitam. Dia menggoyang-goyangkan batangnya, dan mengkibas-kibaskan daun-daunnya.

“Plak…!!!”

Suara daun pisang yang sudah mencoklat atau biasa yang disebut klaras mengenai bunga Pohon Mangga, yang nantinya akan berubah menjadi buah Mangga. Bunga tersebut rontok. Alhasil Pohon Mangga juga menggoyang-goyangkan batangnya yang besar.

“Duukk…” Suara ontong pisang jatuh.

“Kampret, gue nggak jadi berbuah lagi kali ini. Dasar elu nggaaaa !!!” Teriak Pohon Pisang ke Pohon Mangga

“Emangnya elu aja, gue juga tahun ini nggak bisa berbuah juga. Dasar lu !!!”

****

Pertengkaran ini berlangsung dari hari ke hari, bulan ke bulan dan tahun ke tahun. Si Pohon Pisang hanya sekali berbuah, pun dengan Pohon Mangga yang hanya satu kali musim panen. Pak Teguh dan Bu Teguh selalu menantikan Pohon Pisang dan Pohon Mangga berbuah. Halamannya yang kecil membuat mereka menanam mereka berdampingan, tapi Pak Teguh dan Bu Teguh hanya memiliki 2 pohon tersebut di halamannya yang mungil. Suatu hari, karena anak – anak mereka sudah besar, mereka ingin membuat sebuah kamar di belakang. Alhasil mereka mengorbankan kedua pohon tersebut.

“Pak, kita tebang saja Pisang dan Mangga ini. Mereka sudah tidak pernah berbuah, lagipula kita butuh lahan untuk membangun kamar anak – anak” Ujar Bu Teguh dengan suara yang lembut

“Iya Bu, ya sudah besok ingatkan bapak untuk menebang dua pohon itu”

****

Keesokan harinya

“Ngga, lu nggak apa-apa?” Ucap Pisang sambil merintih

“Lu sendiri gimana sang? Ini akhir dari kita ya sang?” Jawab Mangga yang merintih kesakitan

“Sorry ngga ini salah gue, coba kita nggak bertengkar terus, pasti Pak Teguh dan Bu Teguh gembira lihat kita berbuah”

“Enggak sang, ini salah gue juga. Gue minta ma…..af”

“Gue juga minta maaf ngg…ga”

Suara mereka sudah hilang ditelan hembusan angin yang menerpa daun-daun Pohon Mangga dan Pohon Pisang.

****

“Pak,, pak, apa pohonnya sudah ditebang? kok malah ketiduran disini?”

Teriakan Bu Teguh membangunkan Pak Teguh

“Ya ampun Bu, Bapak ketiduran, mana parang ku Bu? ” Ucap Pak Teguh sambil terkaget – kaget

“Ini Pak” Jawab Bu Teguh sambil memberikan parang ke Pak Teguh

“Oiyah Bu, Bapak tadi mimpi aneh, Pohon Pisang sama Pohon Mangga ini bisa bicara Bu” Ujar Pak Teguh sambil menebaskan parangnya ke batang Pohon Mangga.

#Fiksi : Keluarga Hwan Ternyata Raksasa

Sudah sebulan ini Eun Sang tinggal di rumah keluarga Hwan, tapi sampai saat ini tak satupun keluarga Hwan yang mengajaknya bicara, hanya Nenek yang mau bicara dengannya.

“Nek, apa aku tidak diterima disini sampai mereka acuh terhadapku”

“Sulit untukmu diterima disini, aku punya ide, pergilah ke swalayan dan belilah bahan untuk kimchi”

“Apa aku harus memasakkan untuk mereka? Dan mereka menerimaku?”

“Sudah beli saja jangan banyak tanya”

***

“Nek aku pulang”

“Selamat datang, mandilah sekarang, biar aku yang siapkan”

Saat Eun Sang turun dia melihat semua keluarga ada di dapur

“Eun Sang ayo makan” Sapa Ibu Hwan

“Hei, cepat kemari kau, aku sudah sangat lapar” Teriak Hwan

“Ternyata dengan cara ini mereka mau bicara denganku” gumamnya

***

“Neneeeek apa sudah siap?”

“Sudah mereka juga sudah lapar, ayo ke dapur”

Tapi Eun Sang melihat kejanggalan, tingkah nenek aneh, suara nenek lebih besar dari biasanya, lalu mereka menatapku dengan mata yang tajam seakan mau menerkam. Dan mereka semua membawa pisau kemudian berjalan kearahku, tubuh mereka berubah menjadi raksasa seperti di serial Harry Potter

“Ah tidak mereka akan memakanku”

 ***

Note : Karakter diambil dari serial Drama Korea berjudul Brilliant Legacy, Fiksi yang aneh haha

174 kata

#FF100Kata – Indra Perasa

jewel-in-the-palace (1)

Credit

Jang Geum mencicipi rasa masakan yang dibuat oleh Dayang Han. Tetapi..

“Nyonya kenapa masakan ini tidak ada rasanya?”

“Apa? Bagaimana bisa? Coba aku cicipi.”

Kening Dayang Han mengernyit.

“Masakanku enak, apa yang salah Jang Geum?”

Jang Geum mulai sadar ada yang tidak beres dengan dirinya, terutama indra perasanya.Ia jadi ingat perjanjiannya dengan seorang nenek tua.

“Jadi itu bukan mimpi” gumamnya

“Nyonya, aku melakukan perjanjian dengan nenek tua”

“Perjanjian?”

“Aku mencintai penjaga istana, Min Jung Hoo. Nenek bilang padaku, aku bisa memilikinya, seutuhnya jika aku memberikan indra perasaku padanya. Aku pikir itu mimpi, seperti putri duyung memberikan suaranya untuk sepasang kaki.”

NB: Disadur dari Serial Drama Korea : Jewel In The Palace, episode Jang Geum kehilangan indra perasa

#FF100Kata Bawang Putih yang Jahat

“Kenapa kau kemari? mengemis lagi?”

“Putih, ayo pulang”

“Untuk menyuruhku mengepel lantai lagi?”

“Putih aku menyesal”

“Huh, Bilang saja kau iri!!”

“Aku tidak iri, kau pantas dapat labu kecil yang berisi berlian”

“Ya, aku memang pantas”

“Putih, hartamu sudah membuatmu serakah”

“Apa kau bilang? Dulu kau dan ibumu yang setiap hari menyiksaku, menyuruhku pergi ke sungai, mencuci baju. Sekarang kalian terima karmaku”

Bawang Putih hendak memukul Bawang Merah, tapi nenek pemberi labu datang dan bilang

“Putih, hatimu sudah membusuk, kau dibutakan oleh harta, asal kamu tau sebongkah berlian yang kuberikan adalah sebongkah berlian milik band wali yang sudah lama dicari”

Fatamorgana [ 2 ]

“Kok disini ?”

Swiing~ suara rem bis yang mendadak berhenti. Dia tiba – tiba duduk di sampingku, oh Tuhan ini mimpi ? senyumnya sedekat ini, suhu tubuhnya sedekat ini, iya. Aku disampingnya, dia disampingku.

Masih terdiam lama, hah dia malah bersandar di kursi bis dan memejamkan mata. Maksudnya apa ??

Hati ku masih goyah, ketika aku pergi untuk melupakan dia malah hadir tepat di sampingku. Masih seperti mimpi. mimpi ? mimpi ?

Jogja, jogja, jogja….. Teriak kernet

Dia bangun memegang tanganku untuk turun..

Akh… Mas Tama …… ?!

 

 

**************Nah siapa Mas Tama ? dia mas Tama betulan bukan sich ?? tunggu yaa ahahaha #DevilSmile **********

Rindu aroma kenangan bersamamu

Hmmm sedap…

aroma itu langsung menusuk ke hidung ku, aroma sedap, pedas, dan gurih bercampur aduk di hidungku dan tersimpan di otak ku. Masih inget banget tahun lalu tepat hari ini kita mengunjungi Bali bareng teman – teman yang lain. Siang Hari sesaat setelah kami mengunjungi Dreamland Beach dan perut kami keroncongan, kami mampir ke sebuah warung di-entah-apa-nama-tempatnya :D. Sebuah warung yang menyajikan makanan khas Bali, Ayam Betutu.

“Mau makan apa?” ucapmu padaku. “Ayam Betutu laahh” Jawabku. Sambil bersin – bersin karena aroma pedas yang pekat kami mencari tempat duduk yang kosong, candaan, riang, tawa, saling ejek, saat itu begitu teringat. Dari seberang meja kulihat pengunjung yang lain melahap ayam tersebut dengan lahap, wuih sudah gak sabar rasanya, aroma sedap menyerbak keseluruh warung dan pastinya kami sudah usap – usap air liur karena sudah laper banget. Dan saat 5 porsi ayam betutu menghampiri kami, uwaahh saya ciumi dan saya hirup aromanya, sedap, gurih, pedas, manis, benar – benar makin laper.

Memang benar adanya kalau aroma itu lebih kuat kenangannya daripada kenangan apapun, berbeda dengan foto yang jika saya melihatnya hanya sebatas kenangan biasa, namun sebuah aroma yang melekat tak hanya di pikiran namun juga di hati, sangat sulit dihilangkan, dan sensasi ketika mengingat aroma tersebut sungguh luar biasa. Apalagi aroma sedap dan gurih ayam betutu yaahh. Duh ngiler saya 😀

Humm, mengingat – ingat kembali aroma tersebut saya jadi rindu terhadap seseorang yang bertanya padaku saat itu. Kapan kita menghirup aroma makanan bersama lagi ? Saya rindu aroma itu, rindu padamu juga 🙂

Tulisan ini diikutsertakan pada Giveaway Cerita di Balik Aroma yang diadakan oleh Kakaakin

Ab Initio : Aku yang semula

Aku seonggok jiwa. Jiwa yang liar. Berkeliling semesta mencari jati diri. Pribumi – pribumi itu sering membincangkan aku. Kini kuceritakan diriku saat itu, saat aku belum utuh.

Aku berawal dari kosong. Dengan ketetapan hati aku memilih satu untuk kelanjutan jiwaku. Lalu dua mengajakku pergi ke negeri antah berantah, aku dengar dari pribumi kalau dua adalah pengadil yang jujur. Namun diperjalanan dia tak mampu melerai pertikaian antara asongan rokok dan asongan kerupuk upil.

 “bagaimana dia disebut adil?” Gelisik ku dalam hati..

Tidak. aku tak ingin menjadi dirinya yang hanya berimage tanpa laku yang jelas.

Lihatlah aku, seringkali ku dibenci, mungkin ini sisi gelapku, sehingga ketika serigala meraung dan bulan purnama beraura mistis, aku ingin menjadi tiga. Bukankah ini klop dengan ku, jahat, munafik, dan pembohong.

Tapi apakah kamu tetap ingin terjebak dalam raga tak rupawan itu? Kemarilah

Begitu suara gaib yang lalu memungkas raib. Aku berlari menuju suara itu. Kutemukan empat sedang duduk manis di bangku merah itu. Hampir aku merasuki raganya, tapi aku teringat pesan pribumi bahwa empat masih genap. Bukankah Tuhan menyukai ganjil.

Baca lebih lanjut